![]() |
| Add caption |
By: Eka Dina Juliani Utari MS.
Bella, gadis cantik berusia 21 tahun ini sedang melamun sendiri di sudut kamarnya. Sepanjang hari, Bella hanya menghabiskan waktunya untuk melamun meratapi perjalanan cinta yang semestinya tidak di jalaninya selama ini dengan sang kekasih. Bella adalah anak dari keturunan bangsawan Arab yang selalu taat pada kaidah-kaidah ajaran agama islam. Ia menyadari cintanya terhadap Jeremy, cowok Thiong hwa tersebut adalah sebuah kesalahan besar. Hal ini bisa mencoreng nama baik keluarga. Bella dan Jeremy memilki perbedaan keyakinan dalam beagama. Inilah yang di permasalahkan dan selalu di pikirkan oleh mereka, terutama Bella. Kedua orang tua dari masing-masing pihak tidak menyetujui percintaan yang terjalin diantara anak-anak mereka. Bella dan Jeremy yang mengetahui perselisihan di antara kedua orang berusaha keras agar permasalahan ini tidak menjadi penghalang diantara diantara mereka.
Hidup ini terkadang terasa begitu kejam bagi sebagian manusia di muka bumi ini. Tak kala hal yang kita inginkan sesuai dengan apa yang kita rencanakan. Bella, wanita tangguh ini melakukan berbagai cara yang bisa ia lakukan untuk mempertahankan cintanya dengan Jeremy. Namun semua itu sia-sia. Tak luput juga dari benak mereka untuk mengakhiri hidup mereka jika mereka tak mendapat restu. Gertakan tersebut tak mempan dan rencana tersebut berhasil di gagalkan oleh orang tua mereka. Akankah sudah tak ada lagi yang bisa mereka lakukan untuk bersatu? Mereka sudah tak tahu lagi harus berbuat apa. Senua ini telah terjadi, Bella dan Jeremy sudah saling mencintai. Semakin mereka berusaha untuk saling melupakan satu sama lain. Semakin pula perasaan mereka terasa sakit.
Semua ini berawal dari pertemuan pertama Bella dengan Jeremy di sebuah pabrik kerajinan tangan, Yogyakarta. Saat itu Jeremy adalah anak dari pemilik pabrik tersebut. Ia juga ikut mengelola pabrik ayahnya ini sebagai bendahara utama keuangan pabrik. Jeremy lah yang mengatur pengeluaran dan pemasukan keuangan pabrik. Ia harus pintar dalam mengatur jumlah uang pabrik agar tidak rugi dan bangkrut akhirnya. Namun baru sesaat Jeremy bekerja di pabrik tersebut. Ia sudah merasa tak sanggup mengerjakan semua itu sendiria, akhirnya di putuskannya untuk mencari seorang asisten yang pintar dan teliti dalam melakukan berbagai hal.
Di luar pabrik. Aisyabilla, atau cewek yang biasa di sapa dengan sebutan bella sedang linglung, mencari sebuah lowongan pekerjaan yang sesuai di bidang keahliannya. Ia harus segera mendapat sebuah pekerjaan, dikarena keluarganya telah mengalami kebangkrutan, ayahnya jauh sakit dan hanya bella lah yang di harapkan oleh keluarga untuk bisa menopang kebutuhan keluarga. Kemudian Cewek lulusan sekolah Akuntansi ini tak segaja melihat papan pengumuman yang tertera didepan pabrik kerajinan milik keluarga Jeremy. Tertulis di sana “ LOWONGAN KERJA”
Bella yang melihat dan membaca papan pengumuman tersebut, secara sepontan tersenyum lega. Tak di sangkanya, segala persyaratan yang tertera di situ sesuai dengan bidang keahliannya. Tak sabar Bella masuk ke dalam sambil membawa sebuah map coklat yang berisi surat lamaran dan berbagai surat penting lainnya. Orang yang melamar pekerjaan di tempat itu lumayan banyak. Bella merasa canggung berada di situ.
Giliran Bella masuk ruangan yang terletak di sudut lorong itu untuk interview dengan calon Bos nya nanti. Di bukanya pintu secara perlahan, lalu duduk di depan ruangan, tepat di hadapan seorang pemuda tampan bermata sipit. Mata tajam cowok itu memandang bella penuh tanya, di lihatnya penampilan Bella yang terlihat sopan, pemalu dan menutup aurat tubuhnya., Bella hanya menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik jilbab biru yang di kenakannya. Ia merasa risih terhadap tingkah pemuda tersebut yang tak hentinya memandang Bella. Perlahan pemuda itu bangkit dari kursinya dan berjalan menghampiri Bella. Lalu di angkatnya dagu Bella yang masih dalam posisi menunduk dan di dekatkannya wajah tampannya di hadapan Bella.
“ kenapa diam? bicaralah!” seru pemuda tersebut terhadap Bella sambil menatap mata Bella. Wajah polos milik Bella, tak merespon kata-kata pemuda tersebut. Ia terdiam, tak menyangka pemuda tersebut tepat berada di hadapannya, kira-kira wajah mereka hanya berjarak 20 cm. pemuda tersebut juga ikut terdiam melihat wajah bella yang lugu penuh kebingungan. “mata bening itu, tlihat begitu indah… aku seperti tak ingin memejamkan mataku” pikirnya dalam hati. Tak lama setelah itu mereka tersadar.
“maaf, oke Sama minta anda ceritakan siapa anda? apa keahlian yang anda miliki? Pengalaman kerja ? dan alasan anda bekerja di tempat ini? setelah itu surat lamaran dan persyaratannya bisa anda letakkan di atas meja saya” tanya pemuda tersebut sambil pergi meninggalkan Bella dan kembali duduk di kursinya. Di dengarkannya semua perkataan Bella dengan seksama. Setelah selesai memperkenalkan diri, Bella melangkah menuju meja pemuda itu, di letakkannya amplop coklat yang di gandengnya.
Tak berlangsung lama, hanya beberapa menit setelah interview tadi, sudah di putuskan siapa yang terpilih bekerja di pabrik tersebut. Spontan Bella terkejut mendengar namanya di panggil masuk ke dalam ruangan itu tadi.
“saya tertarik dengan pengalaman anda dan keahlian anda dalam urusan keuangan selain itu anda juga pandai menguasai berbagai macam bahasa asing. Setidaknya hal ini yang mendominankan anda lebih unggul dari yang lain. Anda saya terima bekerja di pabrik ini dan mulai besok anda bisa datang ke pabrik ini sebagai asisten saya. Jangan telat!” jelasnya pada Bella sambil mengulurkan tangan, memberi ucapan selamat pada Bella. Dengan senang hati di raihnya tangan pemuda tersebut, setelah berjabat tangan. Bella keluar melangkah pergi meninggalkan pabrik tersebut dengan perasaan gembira, tak sabar ingin memberitahukan kabar baik ini kepada keluarganya.
Esoknya, Bella datang tepat waktu ke pabrik tersebut dan memulai pekerjaan barunya sebagai asisten bendahara keuangan pabrik. Walau awalnya Bella masih merasa ragu-ragu dan canggung untuk bekerja namun ia dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan pabrik. Sifat Bella yang ramah terhadap semua orang membuatnya mudah bergaul dan bersosialisasi terhadap karyawan lainnya.
Siangnya, di kantin pabrik, suasana begitu ramai oleh karyawan-karyawan yang sedang beristirahat sambil makan siang, nyaris tak ada bangku kosong yang tersedia di sana untuk di duduki lagi oleh seseorang. Akhirnya Bella memutuskan untuk makan di luar kantin pabrik, tepatnya di seberang jalan pabrik terdapat warung nasi sederhana. Bella hanya memesan soft drink, dan kemudian duduk di salah satu meja dan kursi yang tersedia.
“ gak makan?” tanya seorang pemuda yang berada di hadapannya, lalu duduk di kursi yang ada di hadapan Bella.
“ pak…” gurau Bella dengan kebingungan
“ Jeremy, panggil Jeremy aja. Di luar jam kantor panggil saya dengan sebutan nama saja, jangan panggil pak lagi, ehhmm.. kita juga seumuran jadi gak ada salahnya panggil saya dengan sebutan nama saja, bisakan! Pinta Jeremy yang sebelumnya memotong kata-kata Bella, dialah cowok yang selama ini menjadi Bos Bella di kantor, yaitu sebagai bendahara keuangan. Walau kedudukan dan perannya dalam pabrik sangat penting namun sikapnya masih terbilang belum cukup dewasa, umurnya hanya berbeda beberapa bulan dari umur Bella. Ia memiliki sikap yang ramah terhadap siapa saja, tak memandang status dan derajat seseorang.
Hari demi hari kian berlalu. Bella dan Jeremy semakin dekat saja, setiap hari, semua aktifitas kantor di kerjakannya bersama-sama. Bahkan mereka juga datang dan pulang kantor bersama. Semakin akrab saja kedekatan mereka, sampai-sampai terdengar gosip di kantor bahwa ada jalinan khusus yang terjalin di antara Bella dan Jeremy. Mereka yang mengetahui gosip fiktif tersebut tak merespon apa-apa, tak ada komentar dari mereka. Bagi Bella itu hanya omong kosong, tak ada kebenaran jadi untuk apa di permasalahkan, lain halnya dengan yang dipikirkan oleh Jeremy, semenjak awal ia bertemu dengan Bella dan bertatapan muka dengannya, Jeremy sudah menyimpan rasa terhadap Bella. Entah mata, wajah atau sikapnya membuatnya tertarik pada Bella namun ia sadar bahwa gadis yang selalu di pikirkannya adalah Bella. Di benaknya hanya terlintas, apa dia benar-benar jatuh hati pada Bella atau hanya . sekedar suka. Namun jika berada di sisi Bella, Jeremy selalu merasa hatinya tenang. Berbeda Saat ia tak berada di sisi Bella, Hatinya terasa sunyi. Pikirannya tak tenang. Berhenti memikirkannya membuat Jeremy semakin galau, sepertinya Jeremy memang benar-benar menyukai Bella dan berharap Bella lah miliknya. Semua tingkah lakunya yang tak wajar dari biasanya ini memperkuat keyakinannya bahwa ia mencintai Bella.
“Tuhan.. jika ia memang tercipta untuk melengkapi hidupku, ku mohon berikan aku jalan untuk tetap bersama dengannya selamanya. Memiliki hati dan jiwa yang ia miliki seutuhnya, karena saat ini hanya dialah yang dapat membuatku hidup tenang. Berikan aku jawaban atas semua ini, ku mohon…” guraunya dalam do’a yang di panjatkan pada Tuhan denga khusyuk dan penuh harapan. Air mata nya mengalir, perlahan membasahi pipi Jeremy, tiba-tiba nafasnya mulai sesak, di pegangnya perut sebelah kanan yang terasa sakit.
Cahaya terang menyilaukan mata Jeremy yang perlahan terbuka. Kakak Jeremy menemukannya jatuh pingsan di tempat persembahyangan tadi. Jeremy saat ini berada di rumah sakit St. Maria. Dokter memfonis Jeremy mengidap penyakit sirosis (pembekuan hati) hidupnya tak lama lagi, kini ia hanya bisa bergantung pada obat-obatan dokter yang harus di konsumsinya setiap hari. Satu-satunya jalan agar ia bisa hidup lebih lama lagi hanyalah pencangkokan hati. hal itu sulit untuk di lakukan, selain sulit mendapatkan pendonor hari. darah si pendonor juga harus sesuai dengan darah Jeremy agar nantinya tidak terjadi hal yang tidak di inginkan. 2 hari setelah kejadian tersebut Jeremy kembali bekerja di kantor seperti biasanya, namun ia tidak ingin memberitahukan apa yang terjadi pada dirinya pada Bella.
“ Bella, nanti sore 1 jam setelah pulang kantor saya mau mengajak kamu pergi ke suatu tempat, mau kan?” pinta Jeremy dengan senyum manisnya, walau wajahnya masih terlihat pucat. Bella hanya mengangguk dengan wajah tersenyum kemudian pergi meninggalkan Jeremy. Jeremy kemudian bergegas membereskan pekerjaannya dan bersiap-siap untuk pertemuanya nanti dengan Bella.
Tepat pukul 17.00 WIB. Jeremy berada di depan rumah Bella. Di bawanya Bella ke sebuat pantai yang sepi namun indah untuk di pandang. Di atas tebing tertinggi di pantai itu mereka berdua berdiri mnghadap matahari senja yang perlahan menghilang seperti tertelan oleh bumi. Di rangkulnya kedua tangan Bella lalu di tatapnya kedua mata Bella.
“Bella, di tempat ini aku akan ngungkapin sesuatu ke kamu, aku mau kamu tau aku sayang sama kamu, aku mau kamu menjadi milikku dan aku gak mau kehilangan kamu selamanya. Aku mau hatimu hanya untukku. Matahari, laut, pohon-pohon, awan-awan dan semuanya yang ada di sini menjadi saksi akan rasa cintaku yang begitu besar padamu, maukah kamu mendampingi hidupku untuk hari ini dan selamanya?” rayunya pada Bella.
Bella tak menyangka hal ini akan terjadi, tak di sangkanya bahwa orang yang di sukainya sejak awal ternyata menyukainya. Tanpa basa basi dan pikir panjang Bella mengiyakan pertanyaan Jeremy.
Sejak saat itu, berita kemesraan Bella dengan Jeremy tersebar luas di kantor, bahkan sampai ke telinga kedua orang tua mereka. Orang tua Jeremy yang mengetahui status sosial Bella yang hidup berkecukupan menentang dengan keras cinta mereka. Baginya Bella tak sederajat dan tak pantas menjadi salah satu anggota keluarga mereka. Berbeda dengan pendapat orang tua Bella, orang tuanya menentang karena Jeremy berbeda keyakinan agama dengan keluaraganya, seharusnya Bella memilih pendamping hidup yang seiman. Pertentangan ini membuat Bella dan Jeremy suli untuk bersatu.
Pukul 16.20 WIB. Jeremy pergi mencari Bella. Serentak, langkahnya terhenti saat melihat Bella yang saat iu sedang berada di masjid yang berada tak jauh dari pabrik. Ia duduk di tembok kecil, penghalang antara pabrik nya dengan sebuah rumah. Saat Bella keluar, ia melihat Jeremy yang sedang duduk sendiri di tembok tersebut.. ia melangkah melewati cowok bermata sipit dan berkulit putih tersebut. Bella berusaha untuk menjauhkan dirinya seperti perintah yang di ajukan orang tuanya.
“ Kenapa Tuhan menciptakan manusia dengan berbagai golongan, jika pada akhirnya ia hanya ingin di sembah dengan satu cara?” gumamnya saat Bella tetap melangkah di sampingnya. Bella kemudian menghentikan langkahnya mendengar ucapan Jeremy, lalu menggantinya dengan langkah cepat menuju kantor untuk mengambil tasnya yang tertinggal di ruang kerjanya. Langkahnya terhenti lagi saat ia melihat mama Jeremy yang saat itu sedang berbicara dengan seseorang berpakaian putih. Tak sengaja di dengarnya perbincangan yang terjalin di antara kedua orang tersebut. di balik pintu Bella berdiri mendengar semuanya perbincangan. Dengan sekejap mata, Bella terkejut, air mata Bella mengalir, nafasnya sesak, jantungnya berdebar kencang, pipi putihnya perlahan memerah, ia tak bisa menahan tangisnya lagi. Perasaannya begitu hancur saat mengetahui orang yang di cintainya saat ini tak bisa hidup lebih lama lagi.
Menyadari bahwa kehadirannya di ketahui oleh dokter dan mama Jeremy, Bella pergi berlari menjauhi ruangan tersebut sambil menghapus air mata di pipinya. Tak sadar bahwa di ujung jalan yang di lalauinya terdapat Jeremy berdiri dengan wajah pucatnya. Di rangkulnya kekasih hatinya tersebut sambil menangis memecah suasana sunyi tempat itu. Jeremy yang melihat tingkah Bella saat itu juga ikut menangis dan memeluk erat tubuh Bella.
“sudah,, berhentilah menangis! Aku gak mau air matamu mengalir hanya untuk menangisi hal seperti ini. Ini semua memang takdir ku. Apapun yang terjadi cintaku takkan hilang begitu saja, penyakit ini tak mampu mengalahkan cintaku terhadapmu, bersamamu di saat-saat terakhirku ini telah cukup membuatku ikhlas akan semua hal yang akan terjadi selanjutnya” kata Jeremy sambil menghapus air mata di wajah Bella walaupun sebenarnya ia ikut menangis. Pandangannya mulai berkunang-kunang, kepalanya terasa berat, perutnya begitu sakit. Akhirnya Jeremy jatuh pingsan di pelukan Bella. Suara tangis Bella semakin membesar dan membuat dokter serta mama Jeremy yang berada di ruangan tadi terkejut lalu keluar menghampirinya. Mama Jeremy yang terkejut melihat anak semata wayangnya jatuh pingsan menangis histeris dan berteriak menyebut nama anaknya berulang kali. Seketika Jeremy langsung di rujuk ke rumah sakit yang sebelumnya pernah di singgahinya. Bella tak sanggup lagi melihat keadaan sang kekasih yang penuh dengan rasa sakit sapanjang waktu. Ditinggalkannya ruang ICU tersebut menuju ruangan dokter yang merawat Jeremy.
Malamnya, Bella mengunci dirinya didalam kamar tidurnya. Merenung sendiri menatap bintang-bintang yang terlihat di balik jendela kamar tersebut. pagi- pagi buta saat mentari hendak menampakkan dirinya. Bella pergi ke pantai, tempat dimana Jeremy penyatakan perasaannya. Di atas bebatuan karang ia menatap luas alam di sekelilingnya, dengan mata yang berkaca-kaca. Ia bangkit dari tempat itu kemudian pergi dari tempat itu.
2 minggu setelah itu, untuk pertama kalinya Jeremy melihat cahaya kembali, perlahan ia membuka mata. Ia tak menyangka bahwa hingga saat ini ia masih hidup. Keluarga Jeremy begitu bahagia melihat anakknya telah siuman. Jeremy tak sabar lagi bertemu dengan Bella. Di pikirkannya ekspresi Bella saat melihat dirinya. Kerinduannya pada Bella kian menjadi-jadi. Kata pertama yang di ucapkan Jeremy hanyalah nama Bella. Berulang kali Jeremy memanggil nama itu namun tak Nampak wajah cantik Bella di sana. Tawa dan bahagia keluarga Jeremy terhenti mendengar ucapan Jeremy yang menanyai keberadaan Bella.
“Bella hanya menitipkan ini, ia ingin kamu membacanya saat kamu telah siuman” gumam mama Jeremy sambil menyodorkan sepucuk surat dari Bella.
Aku kini berada di tempat dimana semua hal
di sini menjadi saksi cinta kita.
Aku akan tetap disini, sampai saatnya
Nanti kamu membaik aku akan menunggumu!
BELLA
5 hari kemudian, keadaan Jeremy telah membaik. Ia tak sabar meninggalkan tempat itu dan pergi menemui Bella yang katanya telah menunggunya di pantai. Sesampaiya di sana ia tak menemukan satu orangpun berada di pantai itu. Sepi dan sunyi, hanya ada angin laut yang berembus kencang. Selang beberapa menit setelah ia sampai di pantai itu, seorang laki-laki yang tak asing baginya datang menghampiri Jeremy.laki-laki itu adalah dokter yang merawat Jeremy. Lalu di raihnya tangan Jeremy dan membawanya sebuah tempat yang tak jauh dari tebing pantai tempatnya berdiri tersebut, kurang lebih hanya sejauh 15 meter. Terukir nama AISYABILLA BINTI ALI RUSMAH HALID, Jeremy tak percaya bahwa yang terbaring di sini adalah Bella, sang kekasih hati yang di cintainya selama ini. Tangisannya mulai tak terbendung lagi, air matanya mengalir tak henti-hentinya di iringi dengan memanggil nama Bella. Tanah merah yang masih basah penuh karangan bunga itu di peluknya, lalu di rangkulnya nisan yang tertera di situ, rasa sakit dan tak percaya menghantui jiwa Jeremy yang di landa kesedihan. Dokter tersebut menceritakan semua yang telah terjadi selama ia tak sadarkan diri. Di ceritakan pula kedatangan Bella pada pagi hari yang menandatangani surat perjanjian persetujuan pencangkokkan hati. Kembali, Jeremy mendapat surat dari Bella.
Dear Jeremy
Maafkan aku jika aku menyakiti perasaanmu, maafkan aku jika aku membuatmu selalu menangis , maafkan aku karena aku tak bisa lagi bersamamu. Ini telah menjadi keputusanku, ku berikan hati ku untukmu karena aku tak mau melihatmu sakit lagi. Mungkin dengan cara ini aku bisa merasa lebih tenang. Tak ada lagi perselisihan di antara kedua orang tua kita. Jangan bersedih atau pun menangisi keputusanku ini . tuhan memang tak menyatukan kita secara fisik namun Dengan hati ku yang saat ini ada pada tubuhmu, aku merasa bisa bersatu denganmu selamanya, hidupku adalah sepenuhnya ku korbankan untukmu dan aku dapat hidup denganmu dalam satu raga. Aku sengaja memilih tempat ini sebagai tempat peristirahatan terakhir raga ku agar aku dapat melihat sepanjang waktu tempat bersejarah kita. Bagiku tempat ini adalah tempat terindah yang pernah ku temui. Namun walaupun ragaku ada di tempat ini, hatiku tetaplah milikmu. Ini akan menjadi cinta abadi ku terhadapmu dan Aku akan selalu ada di sisimu selamanya hingga maut yang memisahkan kita untuk yang kedua kalinya.
Kekasihmu
BELLA
v

kha mav gk sempat baca,,, kepanjangan sih,,,
BalasHapusoy mampir juga ke blog ini , catatanhariansicalonguru.blogspot.com
blog tmn sy kha,,, cecep
bagus kok :)
BalasHapus@cecep: hahahaaa.. kapan" baca yah.. trs coment deh bagus ato gk..?
BalasHapus@rilla: thanks yah.. puisimu juga keren.. so sweet bgt dah. hahahahahaa
ceritanya sedih bgt.. kerenkerenkeren
BalasHapussi penulispun jga ikut sedihh. (aku)
BalasHapus